De’ Ja Vu (2)

Posted: July 11, 2010 in PUISI

Hamparan rumput Hijau laksana bara….
ingatkanku pada sebuah unsur dasar kehidupan…
Kita semakin jauh masuk ke gugusan malam dalam pelukan Nebula.. ,

Tak satupun bayangan bisa kita tangkap…
kita seperti jasad tanpa jiwa…yang terkurung di kota mati..
Berjalan melingkar..berputar putar pada poros…Tak ada jarak dan batas..
Bagaimana ilusi akan terjadi…..??..sedang dari luka yang mengangapun tak lagi kita rasakan perih..

”Dengan kemampuan terhebatku.. ku masih ingat satu nama.. Allah Swt ..
Dia yg menciptakan Para Musafir mengitari bumi..
Dia yg memecah sunyi jadi riak….
Dibawah derasnya cahaya bintang,.ada satu sinar yg menatap tajam menatap para musafir..Dia memberi restu..Dejavu………….

By : Bahtera Kurniawan
July, 2010

Stasiun Tugu,,…
Aku menunggu waktu,..
Jam di tangan seperti ketipak andong di jalanan,
membawa muatan pelancong,..

Penjual cindera mata menawarkan senyum pada setiap orang..
Aqua, reroti, blangkon, surjan,, “Bisakah kubawa pulang..??”

Ah, etalase yang selalu mengganggu..

Rel baja diam saja dihantam resah,,..
Tapi sebentar lagi bakal basah,..
‘Ditikam air mata dan keringat para penjaja,, (Yogya Post, Mei 1986)

Rumah Hujan Dan Waktu,..

Posted: July 11, 2010 in PUISI

Waktu,.. turun bersama hujan,,..
Engkau berjingkat,,..menepi ke pelataran..
Aku mengintipmu dari tiang batu,.. di pelataran gedung di seberangnya,,..
Menerka-nerka apa yang sedang kau pikirkan,,

“Apakah tentang secangkir teh hangat,..??
Rombongan orang berpayung..?
atau tentang aku, yang menatapmu lekat di balik tiang batu,,”

“Siapa yang akan pergi lebih dulu meninggalkan gedung itu…??
“Sangkar sang waktu…” (Bernas, Mei 1986)

Kata Yang Tak Terucap

Posted: July 11, 2010 in PUISI
Tags:

Berapa usia sebuah kata…?
Sebab ucapan yang basah kelak mengering juga..
Sebab lidah yang kelu, tak pernah mengingat apa yang dikatakannya..
Sebab bibir yang punya bahasa sendiri tak pernah minta di susun dalam kamus abadi…

Maka kuucapkan saja kata yang terdengar mustahil, “Kata yang sepertinya sesuatu yang tak mungkin ada tetapi ada.”
Tapi yang paling malang atau beruntung – adalah kata…
Sebab ia bisa meramalkan takdir sendiri,,

Siapa kini yang menyebutmu…? “Tak ada,…”
Siapa kini yang mengertimu…? “Tak ada..”
Siapa kini yang mengalimatkanmu..?
Semua bisa menjawab dengan menyebutmu saja…
Dalam setiap kata, ada nyaring yang sama,.
Dalam setiap suara ada makna yang bertahan, meski telah lama mengabut gema…

Di dalam kamus, kau temui dia dalam diam,…
Sebisikpun tak bersuara… “Dalam jeritmu, dia mendengar kau meyakinkannya, bahwa dia memang ada….
“Dia punya makna…”

Minggu Yogya Post, Feb 1986

RUMAH LAUT

Posted: June 10, 2010 in PUISI
Tags:

Aku pernah duduk menghadap laut,..
ketika malam makin larut,..                           
Di bawah bulan temaram,..
Aku bicara bahasa laut, pantai surut,.. ikan-ikan mabuk…

Pasir basah,,aku tak juga beranjak
karena tubuhku masih hangat,..                     
Aku buat rumah-rumah kecil dengan sepotong laut di dalamnya,..                          
Agar senja tak lekas surut,..    (Bernas, Mei 1985)

Inilah peristiwa paling penting yang amat menentukan di jalan hidupku,…
Mengekalkan takdirku,..”Yakin,..”
Pada sebuah sore:
Ketika akan kugubah sepotong sajak, dan kupacak sederet citra pohon di sepanjang tepi sungai,..
Burung-burung serempak berhamburan,.. dan membangun sarang di situ,..
Di dalam sajakku,…

Seketika kehidupan di sekitar sungai itu jadi ramai,…
Pepohonan bergegas tumbuh, juga rumput, ilalang, semak dan belukar,…

Dari sebuah titik di cakrawala,… Sungai itu tampak melengkung,…
Menipis di kejauhan,.. lalu mematahkan ekornya di batas kertas,…
Di jeramnya, ikan-ikan bertelur dan berbiak mengasuh anak-anak mereka, berenang-renang di rongga-rongga batu cadas,…

Butiran embun meluncur di dedaunan,..’
Dan seperti di pagi-pagi kemarin, matahari menyembul di ujung lansekap,..
Semburat warnanya yang kuning melumuri pinggul gunung,… membercak pada perbukitan,…’

Di bawahnya, rombongan satwa berbaris : Jerapah, pelanduk, Zebra,… dan ” gadis-gadis kecil berlari-lari di jalan setapak,…

“Jangan hidup berkerudung kabut di negeriku,…”
Aku pun pergi mengungsi ke dalam sajakku : Kawin dan berbiak, dan aku malas pulang,.. sampai sekarang,..’ (Yogya Post, Juni 1985)